Talamau, Cyber One - Kampung Jembatan Panjang, Jorong Limpato, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat Rabu, (23/9/ 2026).
Di sebuah sudut yang tenang di Kampung Jembatan Panjang, berdiri sebuah rumah kecil yang lantainya terbuat dari papan. Bukan rumah yang kokoh, bukan pula rumah yang luas. Namun di sanalah, seorang ibu bernama Afrina kini menempuh hari-harinya bersama ketiga anaknya.
Afrina tidak bisa melihat. Penyakit telah merenggut penglihatannya, dan kini ia harus menapaki hidup dengan meraba-raba. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, namun semangatnya untuk anak-anak tak pernah pudar. Ia tidak memiliki tanah sendiri, hidupnya kini menumpang di sebidang tanah, menaungi harapan-harapan kecil di dalam rumah sederhana yang dibangun oleh kebaikan hati tetangga-tetangganya.
Suaminya telah pergi, kini memiliki keluarga yang baru. Dukungan yang ia harapkan tak lagi datang seperti dulu. Untuk menyambung hidup, Afrina hanya bisa mengandalkan bantuan warga sekitar, sedikit demi sedikit, apa yang bisa diberikan oleh tetangga yang juga hidup sederhana.
Namun di tengah keterbatasan itu, harapan Afrina tak pernah padam. Ia ingin membesarkan ketiga anaknya. Anak sulungnya kini sedang menuntut ilmu di sebuah pesantren, setingkat Sekolah Menengah Pertama. Dua anak lainnya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, yang masih sangat membutuhkan bimbingan dan kasih sayang seorang ibu.
"Meski mataku tak bisa melihat masa depan mereka, di dalam hatiku aku ingin melihat mereka berhasil," ucap Afrina dengan suara lembut namun penuh ketegaran, saat media ini berkunjung menemuinya di rumah kecilnya yang sederhana.
Karena kebutaannya, Afrina tidak bisa bekerja. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya duduk atau berbaring di rumahnya yang sempit, berharap kebaikan hati orang-orang akan membawakan mereka makanan dan kebutuhan sehari-hari. Ia tidak meminta kemewahan. Ia hanya memohon satu hal sederhana: agar ia dan anak-anaknya bisa memiliki tempat tinggal yang layak, dan cukup makanan untuk menyambung hidup.
"Siapapun yang berhati baik, tolonglah kami. Aku tidak meminta banyak. Cukup agar anak-anakku bisa terus bersekolah dan kami memiliki rumah yang layak untuk berteduh," pintanya dengan suara bergetar.
Afrina adalah bukti bahwa cinta seorang ibu tidak butuh penglihatan ia hanya butuh hati. Dan di tengah kegelapan yang ia alami, ia tetap berjuang demi cahaya masa depan ketiga anaknya.
Semoga kisah ini menyentuh hati siapa saja yang membacanya. Sebesar apapun bantuan yang bisa diberikan, bagi Afrina dan ketiga anaknya, itu adalah harapan baru yang tak ternilai harganya.
(Elwa KSSA)



0 Komentar