Simpang Empat, Pasaman Barat Cyber One - Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjalin kerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (FT UNP) untuk mengembangkan Sistem Informasi Kejadian Bencana, yang diberi nama SIKENCANA. Pengembangan sistem ini dijadwalkan berlangsung dari 1 Oktober hingga 31 Desember 2026.
SIKENCANA akan hadir dalam bentuk situs web dan aplikasi guna memudahkan pemerintah nagari se-Kabupaten Pasaman Barat melaporkan kejadian bencana secara cepat, terstruktur, dan terdokumentasi.
Bupati Pasaman Barat, Yulianto, memberikan dukungan penuh terhadap rencana ini. Ia menegaskan pentingnya sistem informasi tersebut mengingat Pasaman Barat termasuk daerah dengan risiko bencana tinggi, terutama ancaman gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.
"Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat sangat mendukung rencana pengembangan SIKENCANA. Sistem ini penting untuk mempercepat pelaporan dan memastikan data kejadian bencana dari seluruh nagari tersimpan secara teratur, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanganan bencana." — Yulianto
Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) BNPB tahun 2024, Kabupaten Pasaman Barat mencatat skor 192,85 yang masuk kategori risiko tinggi. Angka ini turun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 203,20 — berkurang 10,35 poin atau 5,10 persen — namun tetap berada pada posisi kedua tertinggi di Sumatera Barat, setelah Kabupaten Agam (204,61). Skor ini juga sekitar 35,29 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi yang berada di kelas risiko sedang (142,55). Secara nasional, Pasaman Barat menempati peringkat ke-14 dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia.
Perlu dipahami bahwa skor IRBI bukanlah persentase luas wilayah terdampak, melainkan gambaran gabungan dari ancaman, kerentanan, dan kapasitas daerah.
Berdasarkan kajian kebencanaan, wilayah Pasaman Barat menghadapi beragam potensi bencana:
- Pesisir: abrasi, gelombang pasang, dan tsunami
- Dataran rendah & aliran sungai: banjir dan banjir bandang
- Lereng dan perbukitan: tanah longsor serta pergerakan tanah
- Cakupan luas: gempa bumi (terkait kondisi tektonik)
- Berdasarkan kondisi cuaca & lingkungan: angin puting beliung, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan/lahan, serta kebakaran permukiman
Karena jenis bencana berbeda-beda tiap lokasi, pemetaan risiko harus merujuk pada data per nagari — inilah yang akan dihimpun melalui SIKENCANA
Melalui sistem ini, laporan kejadian dari seluruh nagari akan terpusat dan terdokumentasi secara lengkap, meliputi: lokasi, waktu, jenis bencana, korban, kerusakan, kebutuhan darurat, dokumentasi, hingga status penanganan.
Tujuannya adalah:
- Mempercepat pelaporan dari nagari ke BPBD
- Memperkuat analisis dan pemantauan kebencanaan
- Menjadi dasar penyusunan kebijakan mitigasi dan sistem peringatan dini
- Mewujudkan satu data bencana yang terintegrasi
- Memperkuat koordinasi antar-pemangku kepentingan
Kerja sama ini dikoordinasikan oleh:
- FT UNP: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anwar, S.Pd., M.T. (Dekan FT UNP) dan Ir. Dedy Irfan, S.Pd., M.Kom. (Koordinator Prodi Pendidikan Teknik Informatika)
- BPBD Pasaman Barat: Zulkarnain, S.Pd., M.M. (Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan)
Pengembangan SIKENCANA diharapkan tidak sekadar menjadi sarana pelaporan, melainkan fondasi pengelolaan data kebencanaan yang andal demi memperkuat kesiapsiagaan dan keselamatan masyarakat Pasaman Barat. Pemanfaatan teknologi ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam menghadapi risiko bencana yang nyata dan terus ada.
(Elwa KSSA)



0 Komentar