Duo Koto, Pasaman, Cyber One - Banjir bandang melanda wilayah Nagari Simpang Tonang, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, pada Jumat, (18/9/2026). Peristiwa bermula dari tingginya intensitas hujan yang turun sejak siang hingga malam hari, menyebabkan aliran Sungai Batu Bosar meluap dengan derasnya. Air bah yang naik dengan cepat tidak hanya merendam areal pemukiman, tetapi juga menggerus lahan pertanian warga, dan sayangnya, menelan satu orang korban yang terseret arus banjir.
Hujan yang turun terus-menerus dalam durasi cukup lama membuat debit air Sungai Batu Bosar meningkat drastis. Air yang semula tenang berubah menjadi deras dan keruh, membawa material lumpur serta batuan dari hulu. Akibatnya, ribuan hektare lahan pertanian berupa kebun dan sawah milik masyarakat di sekitar aliran sungai tergerus dan rusak parah. Para petani yang sebentar lagi akan memasuki masa panen terpaksa menelan pil pahit, karena hasil jerih payah mereka terancam gagal panen total akibat tergerus banjir.
Di tengah kekhawatiran kerugian materiil yang besar, peristiwa ini berubah menjadi duka mendalam bagi salah satu warga. Seorang warga bernama Anton, 51 tahun, berprofesi sebagai petani, berdomisili di Tonang Raya, Nagari Simpang Tonang, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, dilaporkan hilang diduga terseret arus banjir yang deras saat kejadian berlangsung.
Segera setelah menerima laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari personel TNI, Polri, Tim SAR Posko Pasaman Barat, dan warga setempat segera bergerak ke lokasi untuk melakukan pencarian. Namun, kondisi medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi tim pencari. Aliran air yang masih cukup deras serta banyaknya tumpukan material berupa lumpur, batang kayu, dan puing-puing yang terbawa arus menyulitkan proses penelusuran keberadaan korban.
Serka Hendra Lubis, Babinsa Simpang Tonang yang tergabung dalam Koramil 03/Talu, Kodim 0305 Pasaman, membenarkan situasi tersebut kepada awak media. Hingga pukul 00.58 dini hari, tim pencari belum menemukan keberadaan korban.
"Kondisi medan cukup sulit, banyak lumpur dan puing-puing yang menghambat pergerakan kami. Air sungai juga masih cukup tinggi dan arusnya kuat. Hingga saat ini, korban belum ditemukan," ujar Serka Hendra Lubis pada Jumat malam.
Novi Yurandi, Kepala Pos Basarnas Pasaman Barat, juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, tim SAR gabungan telah berupaya melakukan penelusuran di sepanjang aliran sungai pada hari kejadian, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil. Pencarian sementara dihentikan pada malam hari karena kondisi medan yang semakin berbahaya dan keterbatasan penerangan.
"Pencarian akan kami lanjutkan kembali pada besok pagi, Sabtu, 19 September 2026, dengan melibatkan tim gabungan yang lebih banyak serta dukungan masyarakat setempat. Kami berharap dengan cahaya matahari, proses pencarian dapat berjalan lebih optimal," ungkap Novi Yurandi.
Saat ini, warga sekitar tetap berharap yang terbaik bagi keselamatan warga mereka yang hilang, sementara pihak terkait terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan ketinggian air sungai guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan menghindari aktivitas di sekitar aliran sungai hingga kondisi cuaca membaik.
(Elwa KSSA)





0 Komentar